Kerupuk dari buah melinjo atau baguk dalam bahasa Bengkulu, yang dikenal masyarakat sebagai keripik emping, menjadi salah satu camilan khas dengan cita rasa gurih dan renyah. Camilan ini tahan lama sehingga cocok disajikan saat Hari Raya Idulfitri maupun dinikmati bersama keluarga di waktu santai.
Emping melinjo juga banyak dicari wisatawan sebagai oleh-oleh khas Bengkulu. Rasanya yang khas membuat camilan tradisional ini tetap diminati dari generasi ke generasi.
Emping merupakan makanan yang terbuat dari biji melinjo yang direbus, kemudian ditumbuk atau dipipihkan hingga tipis. Proses pembuatannya cukup panjang, mulai dari menyangrai, menumbuk, menipiskan, hingga menjemur sampai kering sehingga menghasilkan kerupuk mentah siap goreng.
Pada umumnya, emping dikonsumsi sebagai pelengkap makanan maupun camilan saat bersantai. Keripik tipis ini memiliki cita rasa khas yang sedikit pahit, namun tetap gurih dan menggugah selera.
Keripik melinjo ini diproduksi oleh masyarakat di Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Salah satu pengrajin yang telah menekuni usaha tersebut selama 25 tahun adalah pasangan suami istri, Zulkarnain (64) dan Martabiba (58).
Dalam proses pembuatannya, mereka terlebih dahulu memanen buah melinjo matang dari pohon yang tumbuh di belakang rumah. Buah melinjo tersebut menjadi bahan baku utama pembuatan emping.
Untuk menghasilkan satu lembar emping, pengrajin biasanya menggunakan tiga hingga empat biji melinjo yang ditumbuk menggunakan palu di atas batu datar yang dilapisi plastik hingga berbentuk tipis dan tidak beraturan. Setelah melalui beberapa tahapan, emping siap digoreng dan disajikan sebagai camilan.
Keripik emping melinjo buatan mereka kini telah dipasarkan hingga ke Pulau Jawa dan beberapa provinsi di Sumatera.
Martabiba mengatakan, demi memenuhi permintaan pasar, dirinya harus mendatangkan bahan baku melinjo dari Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.
“Buah melinjo di Kota Bengkulu saat ini sudah mulai langka dan sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional,” ujar Martabiba, Selasa, 3 Maret 2026.
Setiap hari, Martabiba bersama suaminya mampu memproduksi sekitar 3 hingga 4 kilogram emping melinjo. Untuk menghasilkan satu kilogram emping, dibutuhkan sekitar satu setengah cupak atau setara 1,5 liter buah melinjo.
Ukuran emping yang diproduksi juga menyesuaikan permintaan pelanggan. Untuk ukuran standar, satu keping emping biasanya dibuat dari tiga biji melinjo.
“Emping kami tidak pernah bertahan lama karena setelah selesai diproduksi langsung diambil untuk dipasarkan ke Pulau Jawa dan berbagai daerah di Sumatera,” tutup Martabiba.




