Fort Marlborough menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Provinsi Bengkulu. Provinsi yang berjuluk Bumi Merah Putih ini tidak hanya dikenal sebagai tempat pengasingan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tetapi juga memiliki peninggalan bersejarah dari masa penjajahan Inggris.
Benteng bersejarah tersebut berada di titik nol Kota Bengkulu, tepatnya di Kelurahan Kebun Keling, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Fort Marlborough berdiri megah sekitar 50 meter dari bibir Pantai Tapak Paderi dan membelakangi Samudera Hindia. Lokasinya juga tidak jauh dari kawasan China Town atau perkampungan Tionghoa di Bengkulu.
Fort Marlborough menempati lahan seluas 44.100,5 meter persegi dengan panjang 240,5 meter dan lebar 170,5 meter. Benteng ini memiliki bentuk menyerupai kura-kura, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pada bagian lantai, benteng menggunakan marmer hitam yang masih memperlihatkan sisa-sisa moluska di permukaannya. Marmer tersebut didatangkan langsung dari Madras, India.
Genteng yang digunakan pada bangunan benteng berasal dari luar daerah, seperti Palembang, Sumatera Selatan, dan Batavia atau Jakarta. Pada beberapa bagian benteng masih ditemukan tulisan asal pabrik genteng, seperti Tan Liok Tjau Batavia Java, Stoompannen Fabriek Ven Echt, Tick El Werken Palembang, serta Petrus Recout & Co Maastricht.
Karena lokasinya berada di pusat Kota Bengkulu, objek wisata sejarah ini menjadi destinasi favorit yang wajib dikunjungi saat libur Lebaran maupun akhir pekan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Murlin Hanizar, mengatakan bahwa Fort Marlborough merupakan salah satu benteng terbesar di Asia yang telah dilengkapi berbagai ruangan bersejarah, termasuk ruang yang berkaitan dengan masa pengasingan Presiden Soekarno di Bengkulu.
Wisatawan yang berkunjung juga akan ditemani oleh pemandu wisata yang menjelaskan sejarah dan fungsi setiap bagian benteng pada masa penjajahan dahulu.
“Jika berkunjung ke Bengkulu, rasanya belum lengkap tanpa mampir ke Fort Marlborough,” ujar Murlin.




