Di tengah kawasan bersejarah Kota Bengkulu, berdiri sebuah bangunan unik berbentuk segi delapan dengan kubah besar di bagian atas. Bangunan yang dikenal sebagai Tugu Thomas Parr ini bukan sekadar monumen biasa, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah panjang perlawanan rakyat Bengkulu terhadap kolonialisme Inggris pada awal abad ke-19.
Monumen yang berada tidak jauh dari Benteng Marlborough tersebut hingga kini menjadi salah satu ikon wisata sejarah paling terkenal di Bengkulu.
Sejarah Tugu Thomas Parr bermula pada tahun 1807 ketika Thomas Parr menjabat sebagai Residen Inggris di Bengkulu yang saat itu berada di bawah kekuasaan East India Company (EIC). Selama masa pemerintahannya, Parr dikenal menerapkan berbagai kebijakan yang menimbulkan ketidakpuasan masyarakat, termasuk campur tangan terhadap adat istiadat setempat dan dorongan perluasan budidaya kopi.
Ketegangan antara pemerintah kolonial dan masyarakat akhirnya memuncak pada 23 Desember 1807. Thomas Parr tewas dalam sebuah peristiwa penyerangan di kediamannya yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang menentang kebijakannya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perlawanan rakyat Bengkulu terhadap kolonialisme Inggris.
Setahun setelah kematiannya, tepatnya pada tahun 1808, pemerintah kolonial Inggris membangun sebuah monumen untuk mengenang Thomas Parr. Bangunan ini kemudian dikenal sebagai Tugu Thomas Parr. Pada awalnya, monumen tersebut didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada pejabat kolonial yang gugur saat menjalankan tugas di Bengkulu.
Namun, seiring berjalannya waktu, makna monumen ini mengalami perubahan di mata masyarakat Bengkulu. Jika pihak Inggris memandangnya sebagai simbol penghormatan terhadap Thomas Parr, masyarakat lokal justru memaknainya sebagai simbol keberanian rakyat Bengkulu dalam melawan penindasan kolonial.
Kini, Tugu Thomas Parr tidak lagi hanya dipandang sebagai peninggalan kolonial, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas sejarah Kota Bengkulu. Monumen ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan maupun pelajar.




