Arabika dan robusta merupakan jenis kopi yang menjadi andalan Provinsi Bengkulu. Memiliki iklim tropis dan berada di garis khatulistiwa membuat daerah ini masuk dalam lima besar penghasil kopi terbaik di Nusantara.
Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia digemparkan dengan munculnya kopi luwak yang menyebar ke seluruh daerah. Padahal, kopi luwak sebenarnya sudah dikenal di Indonesia sejak zaman dahulu, terutama pada masa penjajahan Belanda yang memasuki Indonesia pada tahun 1664.
VOC mendirikan kantor dagang yang menuntut petani pribumi untuk menyediakan kopi, tebu, dan rempah-rempah guna diperdagangkan ke Eropa. Namun, enam tahun kemudian kantor ini ditutup dan dibuka kembali pada tahun 1824 di bawah pimpinan Jenderal Johannes van den Bosch. VOC kembali membawa perjanjian baru, salah satunya adalah kewajiban penggunaan 20% tanah pribadi untuk kepentingan perdagangan.
Kemudian, Bumi Rafflesia dipilih oleh VOC sebagai lokasi yang tepat untuk penanaman biji kopi. Pada saat itu, didirikan perusahaan kopi bernama West Cust oleh VOC.
Wilayah pertama yang dipilih adalah Kepahiang. Adanya sistem tanam paksa (Coffie Stelsel) mewajibkan pribumi menjadi pekerja tanam paksa. Pada masa itu, pekerja dilarang membawa biji kopi dari perkebunan ke rumah. Mereka hanya diwajibkan menanam tanpa pernah mengetahui rasa dari biji kopi tersebut. Bahkan, ketika para pekerja pulang, mereka diperiksa untuk memastikan tidak membawa biji kopi.
Hal ini menimbulkan rasa penasaran para pekerja. Mereka kemudian memunguti biji kopi yang telah dimakan oleh hewan luwak dan dikeluarkan kembali dalam bentuk kotoran. Mandor memperbolehkan hal ini karena dianggap tidak layak untuk dikonsumsi.
Para pekerja kemudian mengolah kopi tersebut, dan ternyata menghasilkan aroma yang sangat kuat. Hal ini diketahui oleh mandor, yang kemudian tertarik untuk mencobanya. Setelah mengetahui bahwa kualitas kopi tersebut lebih baik dengan aroma yang khas dan rasa yang berbeda, mandor akhirnya melarang pekerja membawa pulang kopi tersebut.
Itulah gambaran singkat kopi Semang, yang awalnya dianggap tidak layak, tetapi justru menjadi ancaman bagi para penjajah setelah diketahui kualitasnya dari kopi yang dipungut para pekerja pribumi.
Bukan hanya kopi luwak, Bengkulu juga memiliki kualitas kopi terbaik dari varietas lainnya. Kualitas kopi yang dipengaruhi oleh tekanan udara dan jenis tanah membuat Bengkulu menghasilkan kopi yang sangat unggul. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kemenangan dalam kompetisi kopi bergengsi ICSA pada tahun 2012–2014. Robusta Super Bengkulu berhasil meraih Super Grade Premium Best Quality Coffee, sementara Arabika Luwak mendapatkan skor tertinggi.
Bengkulu juga memiliki tiga jenis kopi unggulan, yaitu Robusta Super yang merupakan biji kopi pilihan hasil petikan langsung dari para petani, sehingga menghasilkan kualitas terbaik.
Robusta Super juga berhasil masuk dalam jajaran kopi terbaik Indonesia pada ajang AIKE AICE International Cupping Competition on Gayo Highland 2016 dengan skor 86,76. Kualitas ini telah teruji oleh Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia).
Pengelolaan kopi yang masih menggunakan cara tradisional membuat komoditas ini terlihat biasa. Namun, dengan pengelolaan yang lebih modern, kualitas kopi lokal Bengkulu berpotensi meningkat menjadi komoditas kopi berkelas dunia.




